𝗡𝘂𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗜𝘇𝗮𝗮𝗸 𝗦𝗮𝗺𝘂𝗲𝗹 𝗞𝗶𝗷𝗻𝗲 𝗗𝗮𝗻 𝗕𝗮𝘁𝘂 𝗙𝗼𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗔𝗯𝗮𝗱 𝗚𝗞𝗜
Nubuatnya, bagai sungai yang mengalir deras melewati lembah-lembah waktu, kini memasuki muara seratus tahun, sebuah perayaan yang dirangkai oleh Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, bukan hanya sebagai nostalgia, melainkan sebagai panggilan untuk bangkit, merefleksikan, dan merajut komitmen baru di tengah badai sejarah yang masih mengamuk.
Tahun 1925, ketika angin kolonial masih membawa aroma garam laut Eropa ke pantai-pantai Papua yang hijau. Izaak Samuel Kijne, seorang pendeta muda yang meninggalkan tanah airnya pada 1921, tiba di negeri ini bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penabur benih. Ia bekerja hingga 1941, mendirikan sekolah formal pertama bagi orang asli Papua, mengajarkan bukan hanya huruf dan angka, tapi juga cahaya iman yang tak pudar.
Di tengah hiruk-pikuk zending Belanda yang dimulai sejak 1855 oleh Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam, langkah awal pekabaran Injil yang menaburkan kristal suci di tanah yang haus akan kebenaran. Izaak Samuel Kijne berdiri di hadapan murid-muridnya, tangannya menyentuh batu yang kasar itu, dan suaranya bergema bagai guntur yang lembut :
“𝗗𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗯𝗮𝘁𝘂 𝗶𝗻𝗶, 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘁𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮. 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗻𝗱𝗮𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶, 𝗮𝗸𝗮𝗹 𝗯𝘂𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗿𝗶𝗳𝗮𝘁, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗶𝗻𝗶. 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶".
Kata-kata itu bukan sekadar pidato, ia adalah nubuat, sebuah visi profetik yang lahir dari roh yang digerakkan oleh angin Ilahi.
Izaak Samuel Kijne, dengan latar belakang teologinya yang dalam, menggemakan Mazmur Daud, “Jika Tuhan tidak membangun rumah, sia-sialah usaha para pembangunnya” (Mazmur 127:1) untuk menegaskan bahwa kemajuan material, sekolah-sekolah megah, atau tambang-tambang emas yang kini menganga di perut Papua, hanyalah debu jika tak bertumpu pada iman. Di era kolonial, di mana “kepandaian tinggi” sering kali identik dengan superioritas Eropa, nubuat ini adalah pemberontakan halus, bahwa peradaban sejati bukan milik penjajah, melainkan milik yang beriman, yang merangkul Tuhan sebagai arsitek utama.
"Bangsa ini akan memimpin dirinya sendiri”, frasa yang bergema hingga kini, di tengah gemuruh isu otonomi khusus dan tuntutan kemerdekaan. I.S Kijne, yang menyaksikan transisi kekuasaan dari Belanda ke Indonesia, tak meramalkan tanggal pasti, namun ia melemparkan bola itu ke pangkuan orang Papua sendiri. Ini adalah undangan untuk tanggung jawab kolektif, sebuah metafor batu yang kokoh, peradaban tak jatuh dari langit, melainkan dibangun dari bawah, dari setiap hati anak tanah yang setia.
Nubuat I.S Kijne selaras dengan pernyataannya di Sinode GKI pertama pada 26 Oktober 1956 di Hollandia (Jayapura)
“Kita bekerja di antara satu bangsa Papua yang kita tidak tahu apa maksud Tuhan buat bangsa ini. ... Barang siapa yang bekerja dengan jujur dan dengar-dengaran pada Firman Allah, dia akan berjalan dari satu tanda heran kepada tanda heran yang lain".
Di sini, I.S Kijne menggambarkan Papua sebagai kapal di lautan tak terduga, kita pegang kemudi, tapi Tuhan yang tentukan arah angin, sebuah pengingat bahwa perjalanan bangsa Papua adalah perjalanan iman, penuh keajaiban bagi mereka yang setia dan tulus bekerja diatas tanah ini.
Seratus tahun kemudian, nubuat itu berpadu harmonis dengan perjalanan GKI di Tanah Papua, yang lahir pada 26 Oktober 1956 sebagai buah matang dari zending selama satu abad lebih.
GKI bukanlah sekadar institusi gereja, ia adalah pohon beringin yang akarnya meresap ke tanah Injil sejak 1855, ketika Ottow dan Geissler menginjakkan kaki di Mansinam, menaburkan benih yang kini tumbuh menjadi ribuan jemaat Tuhan di seluruh Papua.
Namun, “100 tahun GKI” di sini bukan hitungan kalender semata, ia adalah peringatan seratus tahun sejak nubuat Izaak Samuel Kijne, yang menjadi tonggak peradaban Kristen di Tanah Papua.
Analisis mendalam menunjukkan kemajuan yang manis getir. Papua kini dipimpin oleh putra daerah di ranah adat, gereja, dan pemerintahan sebuah pemenuhan parsial nubuat itu. GKI telah menjadi benteng iman, mendidik generasi melalui sekolah-sekolahnya, dan menjadi suara kemanusiaan di tengah konflik. Namun, bayang-bayang tantangan masih menari, kemiskinan yang merajalela bagai kabut pagi di lembah Baliem, ketimpangan pendidikan yang seperti luka lama, dan eksploitasi sumber daya yang menggerogoti jiwa tanah ini.
Ketua Sinode GKI, Pdt. Andrikus Mofu, dalam panggilannya yang penuh api, mengajak: “Kita harus bersatu, dipimpin oleh Injil, membangun Papua dengan ketulusan tanpa diskriminasi.”
Ini adalah momen titik balik emosional bukan pesta mewah, melainkan rekoleksi roh, di mana GKI menjadi jembatan antara masa lalu yang suci dan masa depan yang adil.
Dalam sastra jiwa Papua, nubuat Izaak Samuel Kijne bagai puisi yang tak selesai, baris-barisnya mengalir dari batu ke hati, dari 1925 ke 2025, dan seterusnya. Ia mengingatkan kita pada narasi agung rakyat suku-suku diatas Tanah Papua, di mana pahlawan tak lahir dari pedang, melainkan dari iman yang tak tergoyahkan. Seratus tahun GKI adalah simfoni itu, nada-nada kegembiraan pekabaran Injil bercampur dengan nada minor perjuangan, semuanya menuju sejarah spiritual yang penuh harapan.
Papua, tanah yang Tuhan ciptakan bagai kanvas ilahi, kini memanggil anak-anaknya, "Bangkitlah, pimpin dirimu sendiri, dengan Tuhan sebagai mercusuar. Karena, seperti yang Kijne bisikkan di angin Wondama, “Barang siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.”
Dan begitulah hingga di persimpangan satu abad, batu itu masih berdiri, saksinya bisu, tapi nubuatnya abadi. Papua, bangkitlah, GKI, terangilah. Sebab peradaban sejati bukanlah mimpi, melainkan doa yang dijawab oleh tangan-tangan yang beriman. 🕊
𝐇𝐨𝐥𝐥𝐚𝐧𝐝𝐢𝐚 𝟐𝟏 𝐒𝐞𝐩𝐭𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟓
_𝓜𝓪𝓷𝓼𝓪𝓻 𝓟𝓪𝓹𝓾𝓪_✍️
Komentar
Posting Komentar