Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Hutan Adat Saifi Tak Lama Di Dorong" Menjadi Hutan Desa.

Gambar
Saifi, Hutan Adat Saifi Belum lama ini di Dorong ke kementerian Kehutan agar Perubaha Statusnya dari tuhan Desa ke Hutan adat oleh Keterwakilan Tua-tua dari Distrik saifi kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat Daya  Makan sampai sekarang ini Masih Menugu Tangapa dari Kementerian Kesehatan RI agar segera sahkan hutan adat di saifi secepatnya  Agar kami masyarakat adat bisa leluasa atas tanah adat kita sendiri dengan baik adanya. Tak lupa juga kami menyampaikan kepada pemerintah daerah kabupaten Sorong Selatan dalam hal ini Dinas Kehutanan agar dapat melihat penebangan kayu legal yang terus menerus di distrik saifi ini  Perlahan-lahan hutan adat kami mulai terancam oleh penebangan kayu layar yang di lakukan oleh Pengusahan Kayu Exspor di distrik saifi  Mengakibatkan jalan raya yang adalah satu-satunya akses utama bagi masyarakat distrik saifi kain mulai Perlahan-lahan rusak parah. Akibat Proses Penebagan kayu legal yang terus kian merajalela yang kia...

Perjalan Pelayanan oleh Pdt Yakob Yajan Ke Jemaat Pasmos Boaten

Gambar
Saifi, Sabtu,27 September 2025 dengan Pukul: 09:00 waktu Papua dengan Kabut pagi yang indah di atas kampung Tirwanggo Sayal Mulailah bergerak Pdt. Yakob Yajan bersama dengan Istrinya dan juga Sekertaris Yosep Sesa Jemaat GKI Paulus sayal dan juga bapak Pnt. Samuel Momot Dari Jemaat GKI Pengharapan Kikiso. Sekilasnya Singkat: Jemaat Pastmos Botaen sebelum definitif yang menjadi Jemaat induk adalah Jemaat GKI Pengharapan Kikiso yang setia dengan jatuh bangun untuk Pelayanan Di bakal Jemaat GKI Pastmos Botaen hingga mulai berjalannya waktu yang begitu panjang dengan keputusan sidang Klasis Teminabuan makan  Jemaat GKI Pastmos Botaen mulai mandiri sendir dalam pelayanan hingan sidang Klasis Teminabuan di Jemaat Meriba Srer makan Jemaat Pastmos Botaen mulai masuk ke lingkungan Paskah hingga sekarang ini Pelayanan pun berjalan lancar sampai dengan sekarang ini. Menelusuri Sungai Sal yang Menujuh ke sungai seremuk yaitu Kampung Boaten dengan hati yang dingin di hiyasi dengan p...

Penjejakan Sejarah Injili Masuk di Tanah Soroan

Gambar
Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya – Jemaat GKI Paulus Soroan melalui PHMJ menyelenggarakan Seminar Penjejakan Sejarah Injili Masuk di Tanah Soroan pada 26–27 September 2025, pukul 10.00 Waktu Papua. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan juga sebuah ziarah rohani ke dalam sejarah iman yang telah mewarnai perjalanan masyarakat Soroan Raya. Pembukaan Seminar: Doa, Firman, dan Harapan Seminar ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Moderator, Pdt. Carilina M. Lalu, S.Th ., yang juga adalah PHMJ Jemaat GKI Paulus Soroan. Dalam ibadah tersebut, firman Tuhan dibacakan dari Kitab Imamat 25:29–34 dengan perikop “Penebusan Tanah”. Pesan firman ini seolah menjadi simbol yang mengingatkan jemaat bahwa tanah, sejarah, dan iman adalah warisan yang harus ditebus, dijaga, dan diwariskan bagi generasi mendatang. Usai ibadah, Ketua PHMJ Jemaat GKI Paulus Soroan memberikan sambutan dan secara resmi membuka kegiatan...

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

Gambar
Teminabuna, Provinsi Papua Barat Daya- Siang hari, Rabu 24 September 2025 pukul 13.00 WIT, langit Kabupaten Sorong Selatan —atau yang sering dijuluki kabupaten seribu sungai  tampak cerah namun panas terik. Di bawah sinar matahari itu, jejeran toko-toko di sepanjang jalan berdiri rapi, menjadi saksi kehidupan dan denyut nadi perekonomian masyarakat Teminabuan. Namun, di balik geliat ekonomi yang hidup, tersimpan persoalan serius yang sering luput dari perhatian: tumpukan sampah. Perjalanan kami menuju Pasar Kajase memperlihatkan pemandangan yang ironis. Dari kejauhan, sebelum memasuki area parkir, tampak jelas sampah berserakan di belakang halte. Bau menusuk hidung, plastik dan botol bekas berhamburan, seolah-olah kota ini berjalan tanpa arah dan tanpa pemerintah. Ironi besar terjadi: pusat aktivitas ekonomi, tempat orang mencari nafkah, justru dikepung oleh sampah, menjadikannya seakan "tempat pembuangan" yang sah. Fenomena ini tidak munc...

Kali Frakwe Menjadi Inspirasi Sebelah Danau

Gambar
Maybrat, 23 September 2025 Kali Frakwe hari itu berdenyut pelan, seakan menjadi garis pemisah yang membisu di Distrik Ayamaru Utara Timur. Di tepiannya, kehidupan tetap bergerak. Pukul 11.00 waktu Papua, anak-anak muda kampung dengan semangat mandiri mulai beraktivitas di bantaran sungai. Kali Frakwe, yang mengalir melewati Kampung Mapura, menyimpan pesona alami yang tiada banding. Airnya jernih, sebening kristal, merefleksikan kesucian alam yang mengelilinginya. Saya pun bergegas menuju sungai itu, membiarkan tubuh tersentuh kesejukan airnya. Saat berendam, seolah ada bisikan alam yang meresap ke dalam diri, menumbuhkan rasa syukur atas ciptaan Tuhan yang begitu indah. Selesai mandi, saya mengganti pakaian dan bersiap pulang menuju Kampung Ismayo. Saat jarum jam menunjuk pukul 12.00 waktu Papua, langkah saya tertuju kembali dari Mapura, tempat berlangsungnya pemeriksaan dan pengarahan dari Dinas Pemerintah Kampung Kabupaten Maybrat. Arah...

𝗡𝘂𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗜𝘇𝗮𝗮𝗸 𝗦𝗮𝗺𝘂𝗲𝗹 𝗞𝗶𝗷𝗻𝗲 𝗗𝗮𝗻 𝗕𝗮𝘁𝘂 𝗙𝗼𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗔𝗯𝗮𝗱 𝗚𝗞𝗜

Gambar
Di ufuk timur Tanah Papua, di mana ombak Teluk Wondama berbisik rahasia abadi kepada pasir-pasir hitam, berdirilah sebuah batu bukan sekadar relik geologis, melainkan monumen jiwa yang dirajut dari napas roh dan darah perjuangan. Batu Peradaban itu, di Bukit Aitumieri, Miei, Teluk Wondama, bukanlah batu biasa, ia adalah altar di mana, pada 25 Oktober 1925, Izaak Samuel Kijne seorang utusan dari negeri angin utara Belanda meletakkan benih peradaban bagi bangsa yang lahir dari rahim hutan belantara dan pegunungan yang menjulang bagai doa yang tak terucap.  Nubuatnya, bagai sungai yang mengalir deras melewati lembah-lembah waktu, kini memasuki muara seratus tahun, sebuah perayaan yang dirangkai oleh Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, bukan hanya sebagai nostalgia, melainkan sebagai panggilan untuk bangkit, merefleksikan, dan merajut komitmen baru di tengah badai sejarah yang masih mengamuk. Tahun 1925, ketika angin kolonial masih membawa aroma garam laut Eropa ke...

Tangisan Dusun Armeyu yang Tak Pernah Diperhatikan

Gambar
Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Siang itu, tepat pukul dua belas waktu Papua, matahari bersinar begitu terik. Sinar keemasan menimpa tanah Dusun Armeyu, sebuah wilayah kecil yang oleh masyarakat setempat disebut Nauwita. Nauwita bukan sekadar nama; ia adalah jejak sejarah, sekaligus tanda eksistensi marga Nauw yang sejak tahun 2013 berinisiatif membuka perkampungan baru. Awalnya, marga Nauw tinggal di Kampung Suwiam. Namun karena keterbatasan lahan dan tekanan hidup, mereka merasa perlu membangun kehidupan baru di tanah lain. Dari tekad itulah Dusun Nauwita lahir dan hingga kini berstatus definitif sebagai kampung, meski jejak penderitaan juga ikut mengiringi setiap langkah pembangunan mereka. Jalan yang Tak Pernah Selesai Sejak awal berdirinya, akses menuju Nauwita menjadi masalah utama. Jalan yang dibuka untuk menghubungkan kampung ini dengan Suwiam dan Mapura Raya justru berhenti di tengah jalan. Pekerjaan yang setengah hati membuat masyarakat harus m...

Ibadah Minggu Pagi Jemaat GKI Silo Kambuaya

Gambar
Maybrat, Minggu 21 September 2025 Pagi itu, sinar matahari menembus kaki Gunung Kambuaya, menebarkan hangatnya di udara yang sejuk. Tepat pukul 07.00 WIT, langkah-langkah kecil anak-anak PAR mulai bergerak. Mereka datang dengan wajah ceria, penuh semangat, hendak mengikuti ibadah Sondak Minggu pagi. Tema: Penebusan Rumah Bacaan: Imamat 25:29–34 (TB) Apabila seseorang menjual rumah tempat tinggal di suatu kota yang berpagar tembok, maka hak menebus hanya berlaku selama setahun mulai dari hari penjualannya; hak menebus berlaku hanya satu tahun. Tetapi jikalau rumah itu tidak ditebus dalam jangka waktu setahun itu, rumah itu secara mutlak menjadi milik si pembeli turun-temurun; dalam tahun Yobel rumah itu tidaklah bebas. Tetapi rumah-rumah di desa-desa yang tidak dikelilingi pagar tembok haruslah dianggap sama dengan ladang-ladang di negeri itu, atasnya harus ada hak menebus dan dalam tahun Yobel rumah itu harus bebas. Mengenai rumah-rumah di kota-kota orang Lewi, ...

Kisah Inspiratif dari Halaman Belakang Rumah

Gambar
Sorong, 17 September 2025 pukul 12:14 WIT Cuaca siang itu begitu cerah ketika saya menerima telepon dari rekan kerja sekaligus paman kami orang Papua yang akrab dipanggil Om Felix Ulis Sasior. Beliau mengajak saya untuk bertamu ke rumahnya. Dengan menggunakan mobil, saya menelusuri jalan kabupaten Sorong. Hiruk-pikuk kota yang sedang berkembang di tanah Moi itu terasa begitu hidup.  Jalanan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, serupa arena sirkuit yang tak pernah sepi. Sorong memang dikenal sebagai pintu gerbang Papua, tempat segala aktivitas berdenyut semakin cepat. Sesampainya di rumah, saya disambut hangat oleh Om Sasior. Kami berpelukan dalam cara khas orang Papua, penuh ketulusan dan keakraban. Setelah berbincang sejenak di ruang tamu, beliau mengajak saya ke belakang rumah. Di sana, mata saya terarah pada sebuah kolam ikan lele yang sedang dibangun. Kolam itu bukan sekadar tempat beternak, melainkan wujud kesungguhan beliau untuk memanfaatkan waktu l...