Ibadah Minggu Pagi Jemaat GKI Silo Kambuaya
Maybrat, Minggu 21 September 2025 Pagi itu, sinar matahari menembus kaki Gunung Kambuaya, menebarkan hangatnya di udara yang sejuk. Tepat pukul 07.00 WIT, langkah-langkah kecil anak-anak PAR mulai bergerak. Mereka datang dengan wajah ceria, penuh semangat, hendak mengikuti ibadah Sondak Minggu pagi.
Tema: Penebusan Rumah
Bacaan: Imamat 25:29–34 (TB)
Apabila seseorang menjual rumah tempat tinggal di suatu kota yang berpagar tembok, maka hak menebus hanya berlaku selama setahun mulai dari hari penjualannya; hak menebus berlaku hanya satu tahun.
Tetapi jikalau rumah itu tidak ditebus dalam jangka waktu setahun itu, rumah itu secara mutlak menjadi milik si pembeli turun-temurun; dalam tahun Yobel rumah itu tidaklah bebas.
Tetapi rumah-rumah di desa-desa yang tidak dikelilingi pagar tembok haruslah dianggap sama dengan ladang-ladang di negeri itu, atasnya harus ada hak menebus dan dalam tahun Yobel rumah itu harus bebas.
Mengenai rumah-rumah di kota-kota orang Lewi, hak menebus rumah-rumah itu ada pada orang-orang Lewi untuk selama-lamanya.
Sekalipun dari antara orang Lewi yang melakukan penebusan, tetapi rumah yang terjual di kota miliknya itu haruslah bebas dalam tahun Yobel, karena segala rumah di kota-kota orang Lewi adalah milik mereka masing-masing di tengah-tengah orang Israel.
Dan padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka janganlah dijual, karena itu milik mereka untuk selama-lamanya.
Dengan hati gembira, anak-anak PAR berdatangan dari ujung Kambuaya hingga Ismayo. Mereka datang dengan kerinduan pada firman Tuhan, sebab firman itu adalah terang bagi kaki dan pelita bagi jalan mereka.
Setelah ibadah anak-anak selesai, waktu menunjukkan pukul 08.00 WIT. Saatnya ibadah Jemaat Dewasa dimulai. Satu per satu anggota jemaat berdatangan: bapak-bapak PKB, ibu-ibu PW, para pemuda PAM, hingga anak-anak PAR yang lebih besar. Semua datang dengan hati penuh syukur, hendak membawa hidup mereka kembali di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan dari Markus 1:15 mengingatkan:
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Kata-kata itu bergema di hati jemaat, meneguhkan bahwa perjalanan hidup sehari-hari bukan sekadar rutinitas, melainkan anugerah yang harus disyukuri.
Suasana Ibadah
Sambil menunggu ibadah dimulai, alunan musik mengisi ruang gereja. Melodi yang indah itu menyentuh hati jemaat, membangkitkan kenangan tentang kasih setia Tuhan yang menyertai hidup mereka dari hari ke hari.
Setelah warta jemaat dibacakan—yang memuat jadwal kegiatan dari setiap unsur PKB, PW, PAM, dan PAR—puji-pujian pun berkumandang. Jemaat menaikkan syukur dalam nyanyian, mulai dari solo, vokal grup, hingga paduan suara. Semua mengalir indah, mengiringi perjalanan ibadah sejak awal hingga akhirnya.
Nyanyian Jemaat
No. 77 – ’Ku Percaya Allah Bapa (1=G 2/2)
’Ku percaya Allah Bapa, Mahakuasa dan benar,
Khalik langit, laut, dan bumi, seg’nap dunia besar.
Oleh rahmat-Nya ’ku ada, pengharapanku teguh,
Kar’na Bapa menentukan perjalanan hidupku.
’Ku percaya Yesus Kristus, Ia Anak Tunggal-Nya,
Tuhan dan Kepala kami, Allah dan Manusia.
Yang telah kena sengsara, mati dan ditanamkan,
Bangkit, lalu naik ke sorga, memegang Kerajaan.
’Ku percaya dan kumohon: Roh Kudus Kesungguhan,
Yang mengaruniai Gereja, hidup dan persatuan.
Usir hikmat duniawi, roh pendusta dan benci;
B’ri Gereja bersekutu dan percayanya jernih.
Pujian syukur dan hormat, Tuhanku dan Allahku.
T’lah kudengar sabda selamat, kabar kesukaan-Mu.
T’lah kulihat nyata-nyata, kemurahan-Mu besar.
Amin! Rohku pun berkata: “Amin, sabda-Mu benar!”
Penutup
Ibadah Minggu pagi di Jemaat GKI Silo Kambuaya berakhir dengan salam kasih. Jemaat saling berjabat tangan, berbagi damai sejahtera, lalu bergegas pulang ke rumah masing-masing dengan hati penuh sukacita, membawa terang firman Tuhan dalam kehidupan mereka.
Penulis: Jansen N. C. G. Segeit
Komentar
Posting Komentar