Kali Frakwe Menjadi Inspirasi Sebelah Danau

Maybrat, 23 September 2025

Kali Frakwe hari itu berdenyut pelan, seakan menjadi garis pemisah yang membisu di Distrik Ayamaru Utara Timur. Di tepiannya, kehidupan tetap bergerak. Pukul 11.00 waktu Papua, anak-anak muda kampung dengan semangat mandiri mulai beraktivitas di bantaran sungai.

Kali Frakwe, yang mengalir melewati Kampung Mapura, menyimpan pesona alami yang tiada banding. Airnya jernih, sebening kristal, merefleksikan kesucian alam yang mengelilinginya. Saya pun bergegas menuju sungai itu, membiarkan tubuh tersentuh kesejukan airnya. Saat berendam, seolah ada bisikan alam yang meresap ke dalam diri, menumbuhkan rasa syukur atas ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Selesai mandi, saya mengganti pakaian dan bersiap pulang menuju Kampung Ismayo. Saat jarum jam menunjuk pukul 12.00 waktu Papua, langkah saya tertuju kembali dari Mapura, tempat berlangsungnya pemeriksaan dan pengarahan dari Dinas Pemerintah Kampung Kabupaten Maybrat. Arahan itu menekankan agar setiap kepala kampung mengerjakan program sesuai juknis, demi kesejahteraan masyarakat.

Saya juga sempat mendampingi Sekretaris Kampung Nauwita, yang menghadiri kegiatan tersebut. Beliau mendapat pesan penting: setiap kampung wajib menyiapkan laporan dari tahun 2023 hingga 2025 untuk diperiksa oleh BPK. Seusai kegiatan, kami pun pulang dengan kendaraan roda dua, melewati jalan berbatu dan berliku.

Sesampainya di Ismayo, kami beristirahat. Di Toko Echy Ismayo, waktu berlalu sekitar dua jam sambil menyiapkan makan siang sederhana: ikan goreng, nasi putih, dan sayur segar. Hidangan itu bukan sekadar pelepas lapar, tetapi juga penambah tenaga sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Kabupaten Sorong.

Perjalanan itu melelahkan, namun penuh makna. Dari Kampung Kambuaya, kami melaju menuju Fetsamak. Jalan yang kami tempuh beragam kondisinya—ada yang mulus beraspal, ada pula yang masih berupa bebatuan tajam. Roda dua yang kami kendarai harus diarahkan dengan hati-hati, sebab keselamatan adalah hal utama.

Singkatnya, kami memasuki wilayah Sorong Selatan, tepatnya di Aitinyo. Di sana, kami sempat beristirahat sejenak sambil meneguk air yang dibawa dari rumah. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melewati Moswaren, sebuah jalur dengan panorama alam yang memukau sekaligus menantang. Jalanan di sana tak sepenuhnya baik: aspal putus-putus, rawan bagi pengendara motor maupun mobil. Namun, setiap rintangan kami hadapi dengan hati-hati, menjaga keseimbangan antara tenaga, sabar, dan doa.

Menjelang senja, kami melintasi Kampung Waigo hingga masuk ke Kampung Keyen, Distrik Teminabuan. Akhirnya, langkah kami terhenti di rumah, di Kompleks Kikiso. Pukul lima sore waktu Papua, perjalanan itu usai.

Namun sesungguhnya, perjalanan itu tidak pernah benar-benar selesai. Sungai Frakwe, jalan bebatuan, aroma ikan goreng, hingga jalan beraspal yang terputus-putus—semuanya adalah serpihan makna tentang hidup, perjuangan, dan keteguhan hati. Dari kali yang jernih hingga jalanan penuh tantangan, saya belajar bahwa alam selalu memberi inspirasi, sekaligus menguji kesabaran dan rasa syukur kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

RSUD Sele Be Solu Ungkap Kondisi Tiga Korban Insiden Penembakan Maybrat, Hasil Visum Diserahkan kepada Polisi

Aksi Demonstrasi Spontan CPNS Formasi 2024