Kisah Inspiratif dari Halaman Belakang Rumah



Sorong, 17 September 2025 pukul 12:14 WIT Cuaca siang itu begitu cerah ketika saya menerima telepon dari rekan kerja sekaligus paman kami orang Papua yang akrab dipanggil Om Felix Ulis Sasior. Beliau mengajak saya untuk bertamu ke rumahnya.

Dengan menggunakan mobil, saya menelusuri jalan kabupaten Sorong. Hiruk-pikuk kota yang sedang berkembang di tanah Moi itu terasa begitu hidup.

 Jalanan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, serupa arena sirkuit yang tak pernah sepi. Sorong memang dikenal sebagai pintu gerbang Papua, tempat segala aktivitas berdenyut semakin cepat.

Sesampainya di rumah, saya disambut hangat oleh Om Sasior. Kami berpelukan dalam cara khas orang Papua, penuh ketulusan dan keakraban. Setelah berbincang sejenak di ruang tamu, beliau mengajak saya ke belakang rumah.

Di sana, mata saya terarah pada sebuah kolam ikan lele yang sedang dibangun. Kolam itu bukan sekadar tempat beternak, melainkan wujud kesungguhan beliau untuk memanfaatkan waktu luang dengan sesuatu yang produktif.

Tak berhenti di situ, beliau juga menunjukkan sebuah tempat pengolahan pupuk organik cair. Dua drum karet besar berdiri di sudut halaman satu berisi batang sayuran, dan satunya lagi berisi buah-buahan yang difermentasi.

“Kalau sudah enam bulan, pupuk ini bisa digunakan untuk menyiram tanaman,” ujar beliau sambil membuka penutup drum. Saya tertegun. Inovasi sederhana namun penuh makna ini menjadi pelajaran berharga kreativitas bisa lahir dari mana saja, bahkan dari halaman belakang rumah.

Om Sasior bercerita, pupuk organik ini sangat bermanfaat jika diterapkan di kampung Susumuk. Selama ini masyarakat terbiasa berpindah-pindah kebun, meninggalkan hutan yang rusak dan menunggu hingga tanah kembali subur dalam lima sampai sepuluh tahun. Dengan adanya pupuk organik, mereka tidak lagi harus berpindah, melainkan cukup mengolah lahan yang sama secara berkelanjutan.

“Saya hanya ingin memberi contoh,” katanya, “supaya orang Maybrat juga bisa belajar bahwa kita bisa menjaga hutan dan tetap berkebun di satu tempat.”

Saya kagum. Di tengah kesibukannya, beliau tetap menyempatkan diri untuk mencoba hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak. Dari sana saya belajar satu hal penting: semangat untuk belajar tidak mengenal usia. Selama seseorang mau berusaha, ia pasti akan berkembang.

Menjelang sore, saya berpamitan. Namun, hati saya pulang dengan membawa sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kunjungan sebuah kisah inspiratif yang kelak ingin saya teruskan bersama masyarakat.

Penulis : Imanuel Tahrin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

RSUD Sele Be Solu Ungkap Kondisi Tiga Korban Insiden Penembakan Maybrat, Hasil Visum Diserahkan kepada Polisi

Aksi Demonstrasi Spontan CPNS Formasi 2024