Penjejakan Sejarah Injili Masuk di Tanah Soroan


Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya – Jemaat GKI Paulus Soroan melalui PHMJ menyelenggarakan Seminar Penjejakan Sejarah Injili Masuk di Tanah Soroan pada 26–27 September 2025, pukul 10.00 Waktu Papua. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan juga sebuah ziarah rohani ke dalam sejarah iman yang telah mewarnai perjalanan masyarakat Soroan Raya.

Pembukaan Seminar: Doa, Firman, dan Harapan

Seminar ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Moderator, Pdt. Carilina M. Lalu, S.Th., yang juga adalah PHMJ Jemaat GKI Paulus Soroan. Dalam ibadah tersebut, firman Tuhan dibacakan dari Kitab Imamat 25:29–34 dengan perikop “Penebusan Tanah”. Pesan firman ini seolah menjadi simbol yang mengingatkan jemaat bahwa tanah, sejarah, dan iman adalah warisan yang harus ditebus, dijaga, dan diwariskan bagi generasi mendatang.

Usai ibadah, Ketua PHMJ Jemaat GKI Paulus Soroan memberikan sambutan dan secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa penelusuran sejarah injil ini harus mengacu pada nubuat Pdt. Izaak Samuel Kijne, seorang tokoh besar yang telah meninggalkan warisan pemikiran bagi Tanah Papua. Beliau mengajak seluruh intelektual Soroan Raya untuk bersama-sama memberikan masukan, saran, serta memperkaya hasil seminar ini demi kebaikan bersama.

“Seminar ini,” ujarnya, “akan menjadi bekal bagi generasi penerus Jemaat GKI Paulus Soroan, Klasis Ayamaru. Oleh karena itu, marilah kita bergandengan tangan. Sejarah ini bukan milik segelintir orang, tetapi warisan iman kita semua.”

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa hasil seminar akan dibukukan dan diperbanyak, sehingga dapat dipelajari oleh jemaat luas dan generasi mendatang. Sejarah, katanya, bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk melihat terang di tengah perjalanan iman.

Peran Panitia dan Dukungan Jemaat

Ketua Panitia Seminar, Bapak Ruben Bleskadi, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan bahwa proses pengumpulan data sejarah tidaklah mudah, tetapi berkat dukungan jemaat serta kerjasama lintas generasi, semuanya dapat berjalan dengan baik.

“Penjejakan sejarah ini adalah tanggung jawab bersama. Terima kasih kepada bapak-ibu yang telah membantu kami, sehingga seminar ini bisa berlangsung dengan lancar,” tuturnya dengan penuh kerendahan hati.

Hadirin dan Narasumber

Seminar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya:

Pdt. Hans Wanma, S.Th., seorang pakar sejarah GKI di Tanah Papua sekaligus penulis berbagai buku sejarah gereja.

Yunus Duwit, Sos., M.Si., putra asli Kampung Soroan, yang memaparkan hasil penggalian sejarah dari berbagai sumber lisan hingga tersusun menjadi kisah utuh perjalanan Injil di Soroan.

Yehuda Bleskadi, S.Pd., yang memberikan penjelasan garis besar tentang penggalian sejarah Injili masuk di Kampung Soroan.

Sejarah Awal Injil di Soroan

Dalam pemaparan para narasumber, terungkap kisah penting tentang sosok Guru Injil Bastian Flassy. Beliau datang melayani di Kampung Soroan pada 27 September 1948 hingga 1954. Masa pelayanannya penuh tantangan: masyarakat saat itu masih hidup dalam ketertutupan dan kegelapan iman. Namun, dengan tekad dan keyakinan yang teguh, beliau berjuang menyampaikan Firman Tuhan kepada masyarakat.

Dari perjuangan sederhana itu, buah iman mulai tampak. Sebanyak 12 orang pertama bertobat dan dibaptis, menjadi cikal bakal Jemaat GKI di Kampung Soroan. Peristiwa ini bukan hanya awal dari sebuah komunitas gereja, melainkan juga tonggak peradaban baru yang membawa terang Injil ke dalam kehidupan masyarakat.

Makna Reflektif

Seminar ini bukan semata-mata upaya akademis, melainkan juga refleksi rohani. Sejarah Injili di Soroan mengajarkan bahwa iman tidak datang dengan mudah; ia lahir dari kerja keras, pengorbanan, dan kesetiaan hamba-hamba Tuhan yang melayani dalam keterbatasan.

Dengan dibukukannya hasil seminar ini, generasi mendatang tidak hanya membaca kisah masa lalu, tetapi juga belajar menapaki jejak iman, menghargai pengorbanan, dan meneruskan panggilan pelayanan di tanah yang telah ditebus oleh darah Kristus.

Penutup

Penjejakan sejarah Injil masuk di Tanah Soroan adalah sebuah perjalanan kembali ke akar iman. Dari sana, kita diingatkan bahwa sejarah adalah guru yang setia: ia mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul, tetapi juga memberi arah bagi masa depan.

Soroan hari ini berdiri di atas fondasi yang kokoh dari iman para pendahulu. Maka, tugas generasi kini adalah menjaga, memperkaya, dan meneruskan warisan tersebut, agar Injil tetap hidup dan terus bersinar di Tanah Papua.

#Penulis : Jansen.N.C.G Segeit 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

RSUD Sele Be Solu Ungkap Kondisi Tiga Korban Insiden Penembakan Maybrat, Hasil Visum Diserahkan kepada Polisi

Aksi Demonstrasi Spontan CPNS Formasi 2024