Perjalanan Panjang dari Teminabuan ke Maybrat
Matahari siang perlahan bergeser, sinarnya menembus awan putih yang berarak di atas tanah Tehit, menyinari alam luas di kompleks Kikiso. Hari itu, Minggu, pukul 13:00 Waktu Papua, saya memulai sebuah perjalanan panjang. Sebuah langkah yang bukan sekadar menempuh jarak, tetapi juga menapaki jejak sejarah, menelusuri denyut kehidupan yang tumbuh di sepanjang jalan.
Perjalanan dimulai dari Teminabuan. Jalan aspal yang memanjang membawa saya meninggalkan hiruk pikuk kota kecil itu. Di depan sebuah toko sederhana di Kampung Keyan, saya berhenti sejenak. Hanya untuk membeli air minum, bekal kecil namun penting bagi perjalanan yang masih panjang. Di tanah Papua, air bukan hanya pelepas dahaga, melainkan juga pengikat antara tubuh, alam, dan jiwa yang berkelana.
Tak lama kemudian, saya melewati gedung DPRD Kabupaten Sorong Selatan. Dari titik itu, kendaraan berbelok ke kiri, menembus jalur panjang yang mengarah ke pedalaman. Jalan menuntun saya melewati Kampung Boldon, lalu ke jalur Boldon–Wehail. Hampir dua ratus kilometer jalan yang rusak terbentang di depan mata, dihiasi bebatuan tajam yang seolah ingin menguji keteguhan langkah. Namun, di balik kerasnya batu, pepohonan menjulang dengan gagah. Alam Papua Barat Daya selalu tahu bagaimana menyeimbangkan luka dengan keindahan.
Sore menjelang ketika akhirnya saya tiba di Kampung Wehail. Jarum jam menunjuk pukul lima. Kami berhenti sejenak, membiarkan tubuh beristirahat. Air diminum perlahan, terasa seperti anugerah dari laut yang jauh. Hanya sebentar, karena perjalanan masih menunggu.
Dari Wehail, jalan mulai berubah. Aspal halus membentang, memberi rasa lega setelah sekian lama diguncang jalan berbatu. Sekitar dua ratus kilometer berikutnya, kendaraan melaju lebih tenang. Alam di kiri kanan jalan seakan ikut mengiringi, pepohonan hijau menjadi saksi diam perjalanan.
Kampung Sagrim dan Kampung Sauf menjadi pemberhentian kecil berikutnya. Sekadar menarik napas, meneguk air, lalu kembali melanjutkan langkah. Perjalanan tak hanya tentang jarak, tetapi juga tentang jeda, tentang menghargai setiap detik yang ditawarkan alam.
Menjelang sore, sinar matahari mulai condong. Cahaya keemasan menyapu pepohonan, menebarkan bayangan panjang yang mengingatkan pada senja-senja di tanah leluhur. Dan di depan mata, terbentanglah keindahan Danau Ayamaru. Permukaan airnya memantulkan cahaya, bagai cermin raksasa yang merekam wajah alam Papua. Danau itu tak hanya indah, tapi juga penuh cerita, tentang asal-usul, tentang kehidupan yang berakar jauh sebelum aspal menyentuh tanah ini.
Akhirnya, perjalanan panjang hari itu membawa saya tiba di Kampung Ismayo, Distrik Ayamaru Timur, tepat pukul enam sore Waktu Papua. Hari mulai merayap ke senja, udara semakin sejuk, dan hati terasa penuh.
Sekilas, perjalanan ini hanyalah kisah berpindah dari satu titik ke titik lain. Namun sejatinya, ia adalah perjalanan jiwa. Setiap belokan jalan, setiap batu tajam, setiap tegukan air, dan setiap hening di tengah pepohonan adalah pengingat bahwa hidup adalah lintasan panjang. Kita bukan hanya berjalan untuk sampai, tapi juga untuk menemukan makna di sepanjang jalan.
Begitulah perjalanan hari ini. Kisah kecil yang kelak akan bertemu dengan kisah-kisah lain. Sebab setiap perjalanan selalu menyimpan cerita, dan setiap cerita adalah bagian dari hidup yang tak pernah selesai ditulis.
Cerita: Jansen.N.C.G Segeit
Patarung
Komentar
Posting Komentar