Tangisan Dusun Armeyu yang Tak Pernah Diperhatikan
Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya.
Siang itu, tepat pukul dua belas waktu Papua, matahari bersinar begitu terik. Sinar keemasan menimpa tanah Dusun Armeyu, sebuah wilayah kecil yang oleh masyarakat setempat disebut Nauwita. Nauwita bukan sekadar nama; ia adalah jejak sejarah, sekaligus tanda eksistensi marga Nauw yang sejak tahun 2013 berinisiatif membuka perkampungan baru.
Awalnya, marga Nauw tinggal di Kampung Suwiam. Namun karena keterbatasan lahan dan tekanan hidup, mereka merasa perlu membangun kehidupan baru di tanah lain. Dari tekad itulah Dusun Nauwita lahir dan hingga kini berstatus definitif sebagai kampung, meski jejak penderitaan juga ikut mengiringi setiap langkah pembangunan mereka.
Jalan yang Tak Pernah Selesai
Sejak awal berdirinya, akses menuju Nauwita menjadi masalah utama. Jalan yang dibuka untuk menghubungkan kampung ini dengan Suwiam dan Mapura Raya justru berhenti di tengah jalan. Pekerjaan yang setengah hati membuat masyarakat harus menanggung akibatnya: jalan rusak, berbatu tajam, dan tak ramah bagi kendaraan.
Setiap hari, terlihat sekelompok masyarakat berjalan kaki atau menuntun kendaraan melewati jalan tersebut. Aktivitas ekonomi menekan mereka untuk tetap berjuang. Dari Mapura Raya, dari Suwiam Raya, mereka datang berbondong-bondong menuju Nauwita—pusat kegiatan bercocok tanam. Sayur-mayur, ubi jalar, ikan mas, gastor, dan hasil kebun lainnya menjadi denyut kehidupan mereka.
Di bawah terik matahari, dengan kaki yang luka karena bebatuan tajam, mereka tetap melangkah. Semua rasa sakit ditahan demi membawa pulang kebutuhan makan dan minum bagi keluarga di rumah.
Seruan yang Terabaikan
Kondisi jalan yang rusak parah itu telah lama menjadi keluhan masyarakat. Mereka meminta pemerintah daerah, khususnya Dinas PUPR Kabupaten Maybrat, untuk melihat penderitaan ini. Tidak muluk-muluk, sekadar pengerasan atau karang semen saja sudah cukup bagi mereka.
Namun, seruan itu seakan hanya menjadi angin lalu. Dari masa kepemimpinan Bupati Bernat Sagrim hingga kini di bawah Karel Murafer, suara masyarakat Nauwita dan Suwiam Raya tetap tak terdengar. Seakan dusun kecil ini tidak pernah ada di dalam peta kebijakan pembangunan daerah.
Tangisan yang Tertahan
Dusun Armeyu—Nauwita—adalah saksi bisu ketidakadilan pembangunan. Ia menangis tanpa suara, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar diperhatikan. Masyarakatnya tetap hidup, tetap bekerja, tetap bercocok tanam, meski harus melewati jalan penuh penderitaan.
Tangisan itu bukan hanya milik marga Nauw, tetapi juga cermin wajah banyak kampung kecil di pedalaman Papua Barat Daya: kampung-kampung yang memberi makan daerah ini, namun justru paling sedikit mendapat perhatian.
Apakah tangisan Dusun Armeyu ini akan terus diabaikan? Ataukah suatu hari ada yang benar-benar mendengar dan menjawabnya?
Penulis: Jansen N. C. G. Segeit
Komentar
Posting Komentar