Ancaman Sampah yang Merobek Selimut Ibu: Refleksi di Tepi Kampung Manggroholo
Manggroholo, 11 Oktober 2025 Kabut pagi telah turun, sehelai selendang putih yang senyap, mengikat hati kita kepada rahim alam di mana kita berpijak.
Di tengah keheningan yang agung itu, sebuah kesadaran seharusnya berbisik: Alam Tanah ini adalah Ibu kita. Ia patut kita jaga dan lindungi, sama seperti kita melindungi Ibu yang melahirkan kita di atas bumi yang fana ini.
Namun, di Manggroholo, kampung kita yang dikelilingi kekayaan, bisikan kesadaran itu kerap tenggelam oleh gemuruh abai. Di bagian kiri dan kanan permukiman, membentang suaka kehidupan kita: sungai-sungai yang jernih dan dusun sagu yang menjadi lumbung konsumsi sehari-hari.
Sungai Smomik dan Salas, misalnya. Mereka bukan sekadar aliran air. Mereka adalah tempat kita mandi, mencuci, mengambil air minum, dan menjadi denyut nadi keseharian.
Ironisnya, sungai-sungai suci ini kini terancam. Tindakan membuang sampah sembarangan telah menjadi luka terbuka di tubuh Ibu Pertiwi. Sampah yang dilempar ke bantaran air tidak hanya merusak keindahan, tetapi menyimpan potensi bencana yang mengintai. Penyumbatan di setiap saluran air tak terhindarkan, dan pada gilirannya, ia akan kembali dalam bentuk musibah yang kita takuti: banjir dan tanah longsor yang merobek fondasi kehidupan kita.
Refleksi ini harus menemukan resonansi serius, melampaui sekadar teguran biasa. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah kampung, Pimpinan Harian Majelis Jemaat (PHMJ), warga Manggroholo, hingga warga Kampung Sira, harus duduk bersama, karena bencana ekologis tidak mengenal batas administratif.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah titik-titik pembuangan yang seharusnya dikelola dengan bertanggung jawab. Laporan tentang pembuangan sampah dari pihak kesehatan di samping Dapur Makan Jemaat GKI Hosana Manggroholo adalah alarm bahaya yang nyaring.
Sampah jenis ini bekas jarum suntik, sisa botol obat, dan limbah medis lainnya adalah ancaman tersembunyi.
Kali Somik yang menjadi arteri kehidupan harian warga Manggroholo dan Sira kini terancam terkontaminasi oleh racun tak kasat mata ini.
Kita tidak pernah tahu, kapan jarum suntik bekas yang tajam akan melukai kaki anak-anak yang bermain di tepi air, atau kapan sisa bahan kimia obat akan meresap ke dalam air yang kita minum. Ini bukan lagi soal estetika kebersihan, melainkan isu fundamental kesehatan dan keselamatan publik.
Oleh karena itu, ini adalah sebuah seruan, sebuah refleksi mendalam, yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kita harus berhenti melarang keras membuang sampah sembarangan.
Kita harus menyikapi persoalan ini dengan kesadaran bahwa hidup kita masa depan anak cucu kita bergantung pada langkah cepat yang kita ambil hari ini.
Mari kita kembalikan kehormatan Ibu Pertiwi kita. Mari kita pulihkan sungai-sungai kita dari selimut sampah yang merobeknya. Karena di kampung kita ini, kesehatan dan kebaikan hanya akan membaik jika kita mampu hidup selaras dengan alam, sebagaimana alam telah menyediakan segala kebaikan bagi kita.
Jangan biarkan selembar plastik merenggut nyawa, jangan biarkan keabadian sungai kita mati oleh seonggok limbah.
Penulis: Jansen.N.C.G Segeit
Komentar
Posting Komentar