Lentera Budaya dan Bayang-Bayang Sampah di Tepian Danau Ayamaru

​Ayamaru, 20 Desember 2025 Sore itu, langit Ayamaru memamerkan kemolekannya. Cahaya keemasan mentari jatuh memeluk permukaan danau, menciptakan refleksi yang menakjubkan. Di balik kemilau air yang tenang, sebuah hajatan besar sedang berlangsung: Festival Danau Ayamaru 2025.
​Festival ini hadir sebagai jembatan untuk mengangkat kembali harkat budaya, kearifan lokal, hingga kuliner khas Ayamaru.

 Mengusung tema "Menjaga Pesan Ayamaru: Jendela Budaya untuk Masa Depan", acara yang digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) ini menampilkan 16 stan pameran yang meriah sejak 17 hingga 20 Desember.

​Ironi di Balik Keindahan

​Namun, di sela-sela kemeriahan pesta budaya di Lapangan Ela, terselip pemandangan yang menyayat hati. Sepanjang perjalanan menelusuri tepian danau, sampah plastik tampak berserakan, merusak estetika alam yang seharusnya suci. Fenomena ini menjadi cermin retak bahwa kesadaran akan kebersihan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi masyarakat Maybrat.

​Danau Ayamaru bukan sekadar genangan air; bagi suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat), danau ini adalah "Mama" rahim kehidupan yang telah menghidupi generasi demi generasi. Menjadikan danau sebagai tempat sampah adalah bentuk pengkhianatan terhadap warisan anak cucu kita.

​Panggilan untuk Kesadaran

​Esensi dari Festival Danau Ayamaru sebenarnya adalah sebuah seruan kesadaran. Keindahan air yang sejernih kristal dan kekayaan kuliner tidak akan berarti apa-apa jika dibalut oleh kotoran. Kebersihan harus menjadi gerakan utama, mulai dari lingkungan rumah, jalanan umum, hingga ke pusat-pusat wisata.

​"Jika kita tidak sadar akan bahaya sampah yang kita buang sembarangan, alam akan memberi balasan. Pencemaran lingkungan bukan hanya merusak mata, tapi mengundang wabah penyakit—mulai dari gatal-gatal hingga gangguan kesehatan lainnya."

​Mari jadikan momen festival ini sebagai titik balik. Biarlah Ayamaru tetap bersinar dengan cahaya alaminya yang cerah, tanpa tertutup bayang-bayang sampah. Karena menjaga Ayamaru berarti menjaga masa depan peradaban kita.
Penulis: Jansen.N.C.G Segeit 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

RSUD Sele Be Solu Ungkap Kondisi Tiga Korban Insiden Penembakan Maybrat, Hasil Visum Diserahkan kepada Polisi

Aksi Demonstrasi Spontan CPNS Formasi 2024