Menanti Fajar Pariwisata di "Kabupaten 1001 Sungai"


​Teminabuan, 5 Januari 2026 – Matahari siang itu bersinar terik, membasuh Tanah Tehit dengan cahaya keemasan. Kabupaten Sorong Selatan, yang masyhur dengan julukan "Kabupaten 1001 Sungai", menyimpan pesona alam yang luar biasa. Sayangnya, permata hijau ini seolah terlupakan dan luput dari pandangan Dinas Pariwisata setempat.

​Sungai Sembra: Potensi yang Terabaikan
​Salah satu primadona yang merana adalah Wisata Sungai Sembra. Hingga hari ini, pengelolaan sungai tersebut masih jauh dari sentuhan pemerintah. Mulai dari tata kelola kawasan, ketersediaan spot foto, hingga fasilitas hiburan, semuanya masih dikelola secara mandiri oleh masyarakat pemilik ulayat dengan keterbatasan apa adanya.

​Marga Srefle, selaku pemilik hak ulayat, sangat mengharapkan perhatian nyata dari Pemerintah Daerah. Mereka memimpikan pembangunan homestay dan fasilitas penunjang lainnya agar wisatawan merasa nyaman.

​Tak hanya soal infrastruktur, Marga Srefle juga menitipkan harapan pada aspek sumber daya manusia. Mereka berharap anak-anak mereka mendapatkan akses pendidikan yang layak dan kesempatan menjadi ASN. Tujuannya mulia: agar kelak putra daerah sendiri yang mengelola kekayaan alam mereka dengan profesional, yang pada akhirnya akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sorong Selatan.

​Kableki: Nafas Mandiri Pemuda Tolak
​Selain Sembra, ada pula Sungai Kableki yang kini mulai bersolek menjadi destinasi pemacu adrenalin dan ruang diskusi kreatif. Meski baru berdiri sekitar dua tahun, semangat pengelolanya tidak main-main. Diinisiasi oleh Kakak Darwin bersama pemuda-pemudi Kampung Tolak, mereka bertekad memperkenalkan Kableki ke telinga turis domestik hingga mancanegara.

​Inisiatif ini lahir dari keinginan sederhana namun mendalam: agar pemuda setempat memiliki penghasilan mandiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

​Ironi di Atas Air Kristal
​Darwin, pengelola Wisata Sungai Kableki, menyampaikan pesan menyentuh bagi seluruh masyarakat Sorong Selatan. Ia menyayangkan kecenderungan warga lokal yang lebih memilih berbondong-bondong menghabiskan waktu dan uang di destinasi wisata Kabupaten Sorong, Kota Sorong, atau Kabupaten Maybrat.

​"Jangan sampai kita hanya turun ke Sorong untuk berkunjung ke wisata di sana, lalu lupa bahwa tanah kita sendiri adalah surga 1001 sungai," ungkapnya.
​Sungai-sungai di Sorong Selatan mengalirkan air biru jernih bagaikan kristal. Ia adalah sumber kehidupan yang telah menghidupi masyarakat sejak zaman leluhur. Namun kini, keindahan itu seolah ditinggalkan tanpa arti oleh warganya sendiri. Sangat ironis ketika masyarakat tidak mencintai kekayaan alam yang justru mengelilingi mereka setiap hari.

​Mari Mencintai Milik Sendiri
​Kesadaran kolektif sangat diperlukan. Ketika kita mengunjungi daerah lain, kita menyumbang devisa untuk daerah tersebut. Padahal, dari ujung Moswaren hingga ujung Klaogin dan Batu Payung, Sorong Selatan memiliki deretan objek wisata yang tak kalah menawan.

​Dengan mengunjungi wisata lokal, kita tidak hanya berwisata, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Di sana, mama-mama Papua telah menanti dengan dagangan hasil bumi seperti keladi, jagung, kacang tanah, serta pernak-pernik kerajinan tangan.

​Sudah saatnya kita kembali menoleh ke sungai kita sendiri. Karena di setiap aliran airnya, ada harapan dan masa depan masyarakat Sorong Selatan yang perlu kita dukung bersama.
Oleh: Jansen.N.C.G Segeit 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bersama

RSUD Sele Be Solu Ungkap Kondisi Tiga Korban Insiden Penembakan Maybrat, Hasil Visum Diserahkan kepada Polisi

Aksi Demonstrasi Spontan CPNS Formasi 2024