Refleksi Akhir Tahun: Suara dari Susumuk
Pagi itu, matahari mulai menyapa jagat raya dengan jemari sinarnya, membelai lembah dan hutan di Kampung Susumuk, Distrik Aifat, dengan kehangatan yang memberi nafas bagi kehidupan. Burung-burung berkicau dalam simfoni alam Papua yang murni, sementara angin bertiup kencang hingga dedaunan menari gemulai. Semesta di Kabupaten Maybrat ini seolah sedang menaikkan hymne syukur kepada Sang Pencipta yang telah menjaga tanah ini hingga detik ini.
Lagu-lagu Natal mulai menggema di setiap sudut kampung, menjadi melodi pujian bagi Tuhan Yesus yang telah menyertai langkah masyarakat dari bulan pertama hingga penghujung tahun. Saat ini, jarum jam menunjukkan pukul 09.30 WIT, Rabu, 31 Desember 2025. Kita berada di bulan kudus, merayakan kelahiran Sang Juru Selamat di kandang yang hina sebuah simbol agung tentang kerendahan hati dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia.
Ilusi Kelas dan Keserakahan Dunia
Namun, di tengah kedamaian Provinsi Papua Barat Daya, realita pahit masih membayangi. Manusia seolah terjebak dalam sekat-sekat kelas sosial yang tebal. Sebagaimana yang digambarkan oleh Karl Marx dalam karyanya, Das Kapital, pengejaran akumulasi modal telah menciptakan jurang antara mereka yang berkuasa dan mereka yang terpinggirkan. Banyak orang merasa menjadi tuan atas dunia hanya karena tumpukan materi.
Karena uang, mereka lupa diri; hutan-hutan adat dirusak, air sungai dicemari, dan sendi-sendi ekonomi dikuasai demi kepuasan pribadi. Mereka lupa pada peringatan Alkitab dalam Matius 16:26:
"Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"
Satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka beli dengan uang adalah napas kehidupan. Mereka lupa bahwa hidup di bumi memiliki batas usia; sebuah kefanaan yang justru mereka isi dengan merusak alam yang seharusnya menjadi warisan anak cucu di tanah ini.
Investasi untuk Kerajaan Kekal
Uang yang melimpah tidak memiliki nilai tukar di gerbang surga. Surga bukanlah komoditas yang bisa diperdagangkan, melainkan tempat bagi mereka yang memelihara kasih, kerendahan hati, dan kehormatan. Masyarakat diingatkan bahwa surga hanya bisa dimasuki melalui tindakan nyata, bukan oleh siapa yang memiliki jabatan atau harta paling banyak.
Sebentar lagi, kita akan berpisah dengan tahun 2025 dan melangkah ke ambang tahun 2026. Semoga dari ufuk timur ini, segala perbuatan baik kita pertahankan, dan yang buruk kita tanggalkan. Bagi mereka yang terus menambah harta dengan cara merusak bumi, saatnya berpikir ulang tentang cara berinvestasi yang benar untuk Kerajaan Sorga. Jangan sampai, sementara mereka menabung harta di dunia, mereka sebenarnya sedang menabung jalan menuju kebinasaan. Ingatlah nasihat dalam 1 Timotius 6:10:
"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."
Mari kita jaga tanah Maybrat, jaga persaudaraan, dan masuki tahun yang baru dengan hati yang bersih sebagai penjaga ciptaan Tuhan yang setia.
Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Komentar
Posting Komentar