Teminabuan dalam Cengkeraman Kelompok Tak Bernyawa
Teminabuan, 6 Januari 2025 Kabut pagi turun menyelimuti hamparan hutan adat yang agung. Di Tanah Tehit, tempat sejuta suku dan bahasa bernaung, kini terasa ada jiwa-jiwa yang terasing di atas tanahnya sendiri. Dalam keheningan kabut itu, terselip sebuah tanya yang lirih: dari manakah datangnya pertolongan bagi penderitaan masyarakat adat di Kabupaten Sorong Selatan ini?
Teminabuan, Saifi, Konda, dan Moswaren kini berada dalam bayang-bayang ancaman. Deforestasi mengintai, dibawa oleh tangan-tangan korporasi yang datang hanya untuk mengeruk hasil dari rahim tiga suku besar di wilayah ini.
Suara-suara penolakan terus menggema. Bagi masyarakat adat, tanah bukanlah sekadar komoditas; tanah adalah Ibu. Merusak tanah adat berarti merusak sumber kehidupan yang mengaliri nadi masyarakat di Distrik Saifi, Teminabuan, Konda, dan Moswaren.
Masyarakat adat Teminabuan telah berikrar: hingga titik darah penghabisan, mereka akan menjaga tanah warisan. Mereka menolak tunduk pada bujuk rayu perusahaan yang datang silih berganti untuk mencaplok hak-hak ulayat. Kami sadar bahwa program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tengah gencar dilakukan kini menjadikan wilayah kami sebagai sasaran.
Oleh karena itu, kami mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan agar tidak semena-mena mengeluarkan izin bagi perusahaan yang akan merusak hutan kami. Wilayah adat kami sangat terbatas; setiap jengkalnya dijaga oleh marga-marga yang memiliki ikatan batin dengan leluhur. Hutan ini memiliki "Tuan", ia bukan tanah kosong tanpa pemilik yang bisa dimasuki begitu saja tanpa izin masyarakat adat.
Kehadiran aparat yang mendirikan kamp di Kantor KNPI dan Kampus Aktris Teminabuan mengundang tanya. Pemetaan antar-marga dilakukan, mencari tahu siapa yang "keras kepala" dan siapa yang "patuh". Data dikumpulkan, seolah menjadi karpet merah bagi masuknya perusahaan PSN ke Sorong Selatan.
Wahai saudara-saudaraku, masyarakat adat Teminabuan, Moswaren, Saifi, dan Konda: mari kita rekatkan kebersamaan. Mari kita lindungi hutan kita sebagai warisan abadi. Kita berasal dari tanah, dan kepada tanahlah kita berpulang. Jagalah hutan ini sebagaimana kita menjaga ibu kandung kita sendiri.
Oleh: Jansen N.C.G. Segeit
Komentar
Posting Komentar