Stevanus Sasior Desak Pengungkapan Independen Insiden Tiga Warga di Maybrat
Sukabumi, 17 Agustus 2026 — Aktivis Mahasiswa Papua, Stevanus Sasior, mendesak agar insiden yang menimpa tiga warga di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, diungkap secara transparan dan melalui pemeriksaan yang independen.
Sasior menyoroti adanya perbedaan keterangan mengenai penyebab luka yang dialami tiga korban, yakni Silvester Assem, Selfiana Sory, dan Anike Fatie. Ketiganya dilaporkan mengalami luka dan telah mendapatkan perawatan di RSUD Sele Be Solu, Kota Sorong.
Sebelumnya, Anggota DPR Papua Barat Daya Willem Assem menyampaikan bahwa ketiga korban merupakan warga sipil dan menyebut mereka mengalami luka akibat tembakan. Di sisi lain, pada 16 Agustus 2026, Kapendam XVIII/Kasuari Kolonel Inf. Daniel Panusuan Manalu menyampaikan bahwa berdasarkan analisis sementara, luka yang dialami para korban diduga bukan akibat tembakan, melainkan senjata tajam.
Menurut Stevanus Sasior, perbedaan keterangan tersebut harus dijawab melalui pemeriksaan dan pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan melalui perang narasi di ruang publik.
“Pernyataan Willem Assem sebagai anggota DPR Papua Barat Daya merupakan informasi awal yang harus diperiksa dan diuji, bukan langsung dihapus atau ditenggelamkan oleh narasi lain,” ujar Sasior.
Sasior juga menyatakan keberatan terhadap keterangan pihak keamanan yang menurutnya berbeda dengan informasi yang diterimanya dari sejumlah saksi.
Ia menyebut Yakob Assem dan Herman Saud sebagai saksi yang menurutnya masih hidup dan mengetahui kronologi awal kejadian. Sasior juga mengatakan bahwa ketiga korban masih dapat memberikan keterangan mengenai apa yang mereka alami kepada pihak yang melakukan evakuasi dan pemeriksaan.
Karena itu, Sasior meminta seluruh pihak menahan diri dari kesimpulan yang belum didukung hasil pemeriksaan yang transparan.
“Jangan membalikkan fakta. Kalau memang ada perbedaan mengenai jenis luka yang dialami korban, maka buktikan melalui pemeriksaan medis dan investigasi yang independen,” tegasnya.
Korban Harus Menjadi Pusat Perhatian
Sasior menilai persoalan tersebut tidak boleh berubah menjadi sekadar pertarungan pernyataan antara masyarakat, anggota legislatif, dan aparat keamanan.
Menurutnya, yang harus menjadi perhatian utama adalah kondisi serta hak tiga korban yang dilaporkan terluka.
Ia menegaskan bahwa korban berhak memperoleh perawatan, perlindungan, keadilan, serta kepastian mengenai fakta kejadian.
Sasior juga meminta agar pernyataan Willem Assem mengenai status ketiga korban sebagai warga sipil tetap didengar dan diverifikasi. Ia menyebut Assem juga menyatakan bahwa para korban bukan bagian dari kelompok bersenjata.
Kritik Bukan Provokasi
Lebih lanjut, Sasior menolak anggapan bahwa masyarakat yang mempertanyakan kejadian tersebut secara otomatis merupakan penyebar provokasi atau propaganda.
“Meminta transparansi bukan propaganda. Mempertanyakan hasil penyelidikan bukan berarti membenci TNI. Membela hak korban juga bukan berarti mendukung kelompok bersenjata,” katanya.
Ia meminta setiap informasi mengenai insiden Maybrat, baik yang berasal dari masyarakat, pejabat publik maupun aparat keamanan, diuji berdasarkan bukti dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sasior juga mengingatkan agar akun media sosial maupun pihak-pihak yang menyebarkan informasi tidak terverifikasi tidak membentuk kesimpulan sepihak sebelum proses pemeriksaan selesai.
Menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan keterbukaan, pemeriksaan medis yang objektif, keterangan saksi, serta penyelidikan yang independen agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Fakta harus dibuka. Jangan sampai opini yang disampaikan berulang-ulang akhirnya menggantikan fakta yang sebenarnya,” tutup Stevanus Sasior.(Y.S)
Komentar
Posting Komentar